Kamis, 30 Januari 2014

Ridho



Mengapa banyak orang yang ridho ketika diuji dengan kesenangan dari pada ketika diuji dengan musibah ?

Kata Ridho berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti senang, suka, rela. Ridho merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT ridho terhadap kebaikan hambanya

Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dan bisa diartikan Ridho/rela adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian-NYA yang setiap saat selalu ita rasakan. Pengertian ridha  juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah s.w.t

Jadi ridho adalah perilaku terpuji menerima dengan senang apa yang telah diberikan Allah kepadanya, berupa ketentuan  yang diberikan kepada manusia.

Cobaan yang di berikan oleh Allah SWT kepada manusia hanyalah cara Allah untuk mengetahui sampai dimana ketakwaan hambanya.

Allah SWT memberi cobaan kepada hambanya tidak hanya dengan kesulitan, perlu kita pahami bahwa kenikmatan yang diberkan oleh Allah kepada kita itu adalah cobaan dan bahkan ada seorang shabat yang lebih senang di coba dengan kesulitan dari pada di coba dgn ke senangan. Karena kesenangan biasanya membuat manusialupa kepada Allah SWT. 

Memang sekarang ini ketika disuruh memilih sebagian besar manusia akan memilih diuji dengan kesenangan karena mereka tidak mengerti bahwa cobaan Allah datang dari segala aspek kehidupan entah itu dengan kesedihan maupun kesenangan.

Ketika tertimpa musibah kita harus tetap ridho karena Nabi Muhammad SAW  bersabda “Umatku ini dirahmati Allah dan tidak akan disiksa di akhirat, tetapi siksaan terhadap mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan dan musibah-musibah. (HR. Abu Dawud)”

Jadi telah dijelaskan oleh Nabiyullah bahwa aummtnya akan di coba dengan berbagai macam musibah di dunia ini.

Kapitalisme dan Sosialisme


Apakah yang kamu ketahui mengenai kapitalisme dan sosialisme ? menurutmu manakah yang sesuai dengan konsep keadilan dalam islam ?



Definisi kapitalisme = adalah organisasi ekonomi yang bercirikan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan pemanfaatannya utk meraih profit dalam persaingan yang kompetitif. (Milton Freedman, Contemporary Macro Economics).

Ciri-ciri sistem ekonomi Kapitalis :
  1. Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
  2. Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
  3. Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri
  4. Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme)

Sosialisme = aliran politik dan ekonomi yg didasarkan pada : penguasaan negara atas alat-alat produksi, keadilan distribusi, dan perencanaan menyeluruh. (Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam Al-Wasith, h. 480).
Ciri-ciri Ekonomi Sosialis:
  1. Lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme).
  2. Peran pemerintah sangat kuat
  3. Sifat manusia ditentukan oleh pola produksi


Sistem ekonomi Islam adalah seperangkat hukum dan kebijakan syariah yang menjadi dasar pengelolaan harta benda oleh manusia. (Abdullah an-Nashir, al-Madkhal ila Dirasah an-Nizham al-Iqtishadi al-Islami, h. 13)

al-Qur’an, setidaknya menggunakan tiga terma untuk menyebut keadilan, yaitu al-‘adl, al-qisth, dan al-mîzân.

1. al-‘Adl, berarti “sama”, memberi kesan adanya dua pihak atau lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi “persamaan”.

2. al-Qisth, berarti “bagian” (yang wajar dan patut). Ini tidak harus mengantarkan adanya “persamaan”. al-Qisth lebih umum dari al-‘adl. Karena itu, ketika al-Qur’ân menuntut seseorang berlaku adil terhadap dirinya, kata al-qisth yang digunakan. Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak al-qisth (keadilan), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri...(Surah al-Nisa’/4: 135).

3. al-Mîzân, berasal dari akar kata wazn (timbangan). al-Mîzân dapat berarti “keadilan”. al-Qur’an menegaskan alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan. Allah SWT berfirman: Dan langit ditegakkan dan Dia menetapkan al-mizan (neraca kesetimbangan). (Surah al-Rahman/55: 7).



Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam:
  1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia.
  2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
  3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
  4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
  5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
  6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
  7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
  8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Ciri-ciri Ekonomi Islam:
  1. Aqidah sebagai substansi (inti) yang menggerakkan dan mengarahhkan kegiatan ekonomi
  2. Syari’ah sebagai batasan untuk memformulasi keputusan ekonomi
  3. Akhlak berfungsi sebagai parameter dalam proses optimalisasi kegiatan ekonomi

Sosialisme dalam pandangan Islam merupakan Perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qu’ran kepada Nabi Muhammad SAW untuk menolak segenap bentuk diskriminasi dalam segala bentuk dominasi ekonomi, pemusatan dan monopoli harta. Terlihat atas yang dilakukan Nabi Muhammad SAW penyelesaian terhadap permasalahan sosial dalam memperjuangkan ketidakadilan yang dilakukan oleh kaum mustakbhirin terhadap kaum mustadafhin. Dalam rangka membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial masyarakat dari awal manusia sampai sekarang bergerak dan embang melalui lima tahapan pokok. Diawali sistem masyarakat komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme menuju ummat yang tauhid. Al-Quran cukup jelas mengutuk orang-orang yang menumpuk-numpuk harta, hendak menjadikan kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) menjadikan pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, guna menuju ummat yang satu (tauhidi).