GERHANA
Buah pepaya memang manis rasanya. Yang ranum pun sedap kalau dibikin
rujak. Adalagi keistimewaan pohon papaya, ia tumbuh dan berbuah di segala
musim, baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Jadi, tak ada alasan bagi
siapapun di muka bumi ini untuk memusuhi pohon dan buah papaya.
Itulah maka Sali tidak mengerti dan hampir tak dapat menahan hati ketika
diketahuinya pada suatu pagi pohon papaya satu-satunya yang tumbuh dipekarangan
rumahnya dalam keadaan roboh membelintang di tanah. Beberapa buah pepaya yang
sudah ranum dilihatnya tertimpa batang yang gemuk itu hingga lumat berlepotan
serupa tempurung kepala bayi-bayi yang remuk ditimpa penggadah raksasa.
Serasa Sali diapungkan kelangit, linglung tak tau apa yang mesti
dibuatnya. Perutnya berbunyi-bunyi, kedua belah matanya terus berkedip-kedip.
Jari-jarinya menggeletar ketika membarut-barut batang pepaya yang tumbang itu.
Getahnya yang meleleh menetes-netes, dimatanya persis darah segar kental,
mengingatkannya pada cerita-cerita penyembelihan yang mengerikan.
Seorang tetangga dari sebelah rumahnya datang diam-diam dan berdiri
disampingnya, ikut menyaksikan musibah ini.
“Tengok,” kata Sali. “Tengoklah ini ada bekas bacokan.” Lalu dirabanya
bagian itu. “Jadi telah dibacok dengan parang….”
“Siapa yang melakukannya?” tanya tetangga.
“Mana kutahu? Kalau saja aku tahu siapa dia yang bertangan usil itu,”
kata Sali sambil meremas-remas tangannya, “Sekarang akan kau saksikan pameran
dari kepingan tangan jahil itu. Akan kulunyah-lunyah sampai lembut berantakan
tangan biadab itu.”
“Aneh, apa maksudnya berbuat seperti itu? Apa latar belakangnya?” tanya
tetangga pula.
“Kutanam dulu bijinya disini,“ kata Sali seraya mengais tanah dibawahnya
dengan ujung jari kakinya, “kupupuk dan kusiram dua kali sehari, pagi dan sore
ketika kuncupnya mulai nyemi, hampir aku berjingkrak-jingkrak menari lantaran
besar hatiku.” Kembali diusapnya batang pepaya itu. Tiba-tiba matanya
berkaca-kaca dan suaranya menjadi keruh, “Aku seperti bapaknya yang mengasuhnya
sejak ia masih bayi hingga sebesar ini,” ia tersekat sesaat, lalu tambahnya,
“Sekarang beginilah keadaannya, ditebang, dibacok, digorok, dan dirobohkan
dengan tak semena-mena….”
Tercenung si tetangga mendengar kisah mengharukan itu. Berkali-kali ia
mau campur bicara, tapi setiap kali di urungkannya, akhirnya berkatalah ia,
“Sedih juga jadinya mendengar ceritamu. Tapi seperti kau melebih-lebihkannya.
Aku jadi teringat pada yang sudah mendahului kita….”
“Siapa melarang apabila ia kutimang bagai anak kandung?” tanya Sali
tiba-tiba. “Bagiku dia tidak berbeda dengan seorang anak yang sungguh-sungguh,
Tiadakah ia punya nyawa juga seperti kita?”
Kepala tetangga terangguk-angguk. Tiadalah ia berusaha buat membuka
mulut.
“Menebangnya serupa ini,” kata Sali, “sama dengan membunuh satu nyawa.
Tidakkah demikian?”
Kembali tetangga terangguk-angguk.
“Apakah dosanya, apakah salahnya maka ia ditebang, dirobohkan? Disegala
musim dipersembahkannya kepada kita buahnya yang manis segar. Mengapa ia
dimusuhi, dibenci, dibacok dengan parang seperti ini?”
“Benar juga kata Sali,” kata tetangga, “boleh dibilang ini pelanggaran,
pelanggaran atas hak orang. Bisa dituntut, sebab setiap pelanggaran mestilah
dapat hukuman yang setimpal. Sebaiknya hal ini kau laporkan kepada Pak Lurah.”
“Tentu ini mesti dilaporkan. Bukan saja kepada Pak Lurah, kalau perlu
bahkan kepada pembesar yang paling gede.”
“Pembesar ku kira tak sudi mengurusi soal-soal sepele seperti ini…” sela
tetangga. “Mereka cuma mengurusi perkara-perkara besar saja. Urusan seperti ini
tentulah tidak menarik minat mereka.”
“Apa? Sepele?” dengus Sali. “Kini ditebangnya pohon pepaya, besok rumah
ku akan dirobohkannya dan lusa seluruh kampung akan dibakarnya. Nah, apakah ini
bukan perkara besar?”
Kembali tetangga terangguk-angguk.
“Benar juga itu, sebaiknya kau lapor dulu pada Pak Lurah. Pagi-pagi
tentulah ia ada dirumahnya….”
Sebentar Sali berpikir, kemudian cepat melangkah meninggalkan
halamannya. Di luar pagar ia tertegun sejenak, ingat ia belum sarapan, tapi
segera melangkah kembali, hampir berlari-lari menuju ke tempat Pak Lurah.
Di kelurahan Sali disambut Pak Lurah.
“Sepagi ini kau datang. Ada apa? Kemalingan?” tanya Pak Lurah.
Setelah mengatur napasnya, Sali menjawab. “Pak Lurah, semalam kan tak
ada angin ribut?”
“Ya….”
“Tak ada gempa bumi?”
“Benar….”
“Tapi, sungguh mengherankan….”
“Apa yang mengherankan?”
“Pohon pepayaku….”
“Mengapa pohon pepayamu?”
“Tumbang.”
“Tentu ada yang merobohkannya.”
“Tak syak lagi. Ada bekas bacokan pada batangnya.”
“Bacokan? Hem, siapa yang melakukannya?”
“Nah, inilah baru soalnya. Siapa yang berbuat tidaklah ku ketahui, tapi
mestilah ia orang yang berulat di hatinya.”
“Kau punya seteru?” tanya Pak Lurah, “atau pernah cekcok sama tetangga
kanan-kiri?”
“Setahu ku, aku tak punya seorang seteru pun di muka bumi ini.
Menyinggung-nyinggung tidak pula jadi kegemaranku. Seandainya ada yang merasa
tersinggung oleh kata-kataku, masih banyak jalan yang patut ditempuhnya buat
membalas sakit hatinya padaku. Umpamanya melempari rumahku dengan batu atau
pergilah ke dukun untuk meletuskan perutku. Mengapa mesti pohon pepaya yang tak
berdosa di robohkannya?”
“Hem,” pak Lurah lalu memilin-milin kumisnya yang galak itu, kemudian
ujarnya, “Boleh jadi ada sebabnya maka ia tak suka sama pohon-pohon pepaya….”
“Aneh, tapi mengapa?”
“Ya begitulah, mungkin hatinya pernah terluka hingga dendam mencekam
dalam hatinya.”
“Mustahil!”
“Kenapa mustahil? Misalkan pohon itu telah membangkitkan kenangan kepada
hal-hal pahit yang pernah dialaminya.”
“Bagaimana mungkin….”
“Mudah saja. Umpamanya dulu ia pernah mencuri buah pepaya dan tertangkap
basah. Si empunya tentulah menghajarnya sampai babak belur. Atau umpamakan
dialah si empunya pohon pepaya yang lebat buahnya, tapi selalu di dapati
buahnya hilang dicuri orang hingga tak sempat di nikmatinya buah itu meski
barang sebuahpun. Tidaklah cukup alasan baginya untuk merobohkan setiap pohon
pepaya yang dilihatnya?”
Lama Sali terdiam. Sebenarnya ia kecewa mendengar ocehan Pak Lurah yang
baginya mau mengada-ada itu. Tapi, ia mendapat jalan lagi. Katanya, “Kalau ada
seorang bocah pernah mengencinginya, adakah pantas kalau ia lalu mencekek
mampus setiap bocah yang dijumpainya di jalan-jalan?”
Rupanya Pak Lurah merasa tersinggung oleh bantahan Sali. Pak Lurah
mendehem beberapa kali seolah-olah ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Kemudian ujarnya, “Mana boleh bocah kau samakan dengan pohon pepaya?”
“Kan pohon punya nyawa juga, Pak?”
“Uh, sebatang pohon pepaya tak lebih berharga dari sepincuk nasi rames
dan kau mau berlagak seolah-olah kehilangan anak kandung kesayanganmu?”
Sali mengerti bahwa Pak Lurah mulai meradang, kentara dari kedua belah
matanya mulai memerah. Pikirnya, lebih baik mengalah, ia berkata merendah,
“Pak, pohon pepaya di pekaranganku telah dirobohkan dengan tak semena-mena.
Tidaklah sepatutnya hal itu ku laporkan?”
“Itu benar, tapi jangan melebih-lebihkan. Ingat, yang harus diutamakan
ialah kerukunan kampung. Soal kecil yang terlalu dibesar-besarkan bisa
mengakibatkan kericuhan dalam kampung. Setiap soal mesti diselesaikan dengan
sebaik-baiknya. Tidak boleh mein seruduk. Lebih-lebih engkau. Kabarnya kau
berpenyakit darah tinggi. Suatu penyakit yang jelek sekali, mudah membuat orang
jadi penasaran. Masih ingatkah kau pada peristiwa Dulah dan Bidin tempo hari?
Nah, betapa menyedihkan kesudahannya….”
Karena dilihatnya Sali diam saja, Pak Lurah melanjutkan, “Apakah
soalnya? Dua kilo beras. Seorang kehilangan nyawanya dan yang lain meringkuk
dalam penjara. Gara-gara sejumput beras. Yang satu bilang sudah dikembalikan
beras yang dipinjamnya. Yang lain bilang belum, lalu selusin iblis menyerupai
mereka. Cekcok kian menjadi-jadi dan akhirnya baerkesudahan dengan penumpahan
darah. Kini kau datang dengan persoalan pohon pepayamu. Tak ada bedanya antara
sebatang pohon dengan dua kilo beras, sama-sama bisa berlarut-larut dan
berkesudahan menyedihkan. Sebaiknya kau pulang saja, ambillah beberapa benih
pepaya dan tanamlah di pekaranganmu. Tiada beberapa lama tentu akan kau miliki
lagi pohon-pohon pepaya. Habis perkara,” kata Pak Lurah akhirnya.
Sali terbungkam. Cerita Pak Lurah memang benar, sebab dilihatnya sendiri
ketika si Bidin diseret ke kelurahan dan Si Dulah diangkut dengan tandu ke rumah
sakit. Tapi, ada keragu-raguan timbul dihati kecilnya: Benarkah mereka
berkelahi sekedar hanya karena memperebutkan dua kilo beras? Mustahil. Tentulah
ada hal-hal lain yang lebih musykil dari itu.
Tiba-tiba urat diwajahnya pada menegang hingga wajah Sali
kemerah-merahan. Pikirnya kemudian: Mengapa pula soalku lantas
dihubung-hubungkan dengan segala yang bukan-bukan? Kerukunan kampung.
Kesejahteraan kampung. Beras berdarah. Darah tinggi segala. Mengapa semua itu
dibawa-bawa? Tidakkah sepantasnya ia datang melapor kalau pohonnya ditebang
orang?
Tapi, apabila terpandang olehnya wajah Pak Lurah yang kerut-merut dan
kumisnya yang galak membelintang di bawah hidungnya, sepatah kata pun tak
terucapkan olehnya. Diam-diam Sali menuruni jenjang kelurahan menuju jalan
raya.
Akan mengalahkah dia dan ngosel kembali ke rumahnya? Tidak, sekali-kali
tidaklah ia akan menyerah begitu saja. Dia ingin tahu, masihkah ada peraturan,
sekurang-kurangnya maksud-maksud baik yang serupa itu didesanya ini yang mau
melindungi hak-hak orang. Kalau dari Pak Lurah sudah tak bisa diperolehnya apa
yang diinginkannya, maka tahulah ia kemana sekarang langkahnya mesti diarahkan:
Pak Camat. Begitulah Sali lalu mempercepat langkah menuju kecamatan.
Di kantor kecamatan Sali diterima oleh
beberapa juru tulis muda, karena Pak Camat kebetulan tidak ada di tempat.
Ada-ada saja ulah tingkah anak-anak muda itu. Salah seorang diantara mereka,
setelah mendengar laporan Sali, berkata, “Wah, urusan Bapak ini benar-benar
bukan perkara kecil. Ini sungguh-sungguh satu perkara yang bukan main besarnya.
Harus segera disusun satu tim khusus untuk menyelidikinya, mengadakan
penelitian dari segala segi dan penjuru. Kami kira Pak Camat tentu tidak akan
mampu menyelesaikannya. Jadi, sebaiknya Bapak pergi saja menghadap kepada Jaksa
Agung di Ibu Kota....”
“Ah, jangan ke sana,” ujar juru tulis yang lain, “Jaksa Agung pun tak
akan sanggup mengurusnya….”
“Habis mau ke mana Bapak ini mesti menggotong batang pepayanya yang
besar itu?”
“Langsung ke PBB….”
“Alangkah geger dunia akan dibikinnya….”
Akhirnya Sali mengerti, bahwa olok-olok anak-anak muda itu tentu tak
boleh diteruskan. Siapa tahu akan menaikkan darahnya. Jadi, segera
ditinggalkannya juru tulis-juru tulis muda yang iseng itu.
Di tengah jalan yang berbatu-batu, terasa oleh Sali bebannya bertambah
berat meski tiada sibawanya batang pepaya itu.
Dengan sebelah kaki dapat digulingkannya batang pepaya itu kedalam
selokan, itupun nanti akan dilakukannya. Mengapa kini malah jadi bertambah
ruwet soalnya? Tapi, bagaimanapun, soal ini bukanlah mesti mendapatkan
penyelesaian?
Terpikir pula untuk melaporkannya kepada bapak polisi desa dan kebetulan
jalan yang sedang ditempuhnya sedang menuju kesana pula. Meski banyak rasa
pantang di hatinya untuk menghadap bapak polisi, namun sekali ini dipaksanya
jua langkahnya ke kantor polisi desa.
Hampir ditariknya surut kaki dari ambang pintu kantor itu ketika
tiba-tiba pandangan Sali terbentur pada tanda-tanda rumit, paku-paku,
selempang, dan sabuk dari kulit berbingkai keemasan, sarung pistol, vantopel,
dan segala macam tetek bengek yang serba membingungkan merubungi tubuh orang yang
disebut bapak polisi itu. Tapi, ternyata, tiadalah mungkin ia kembali surut,
karena tiba-tiba terdengar suara melenguh dari belakang meja.
“Hai! Ada orang yang mengintip di situ?”
Seketika Sali tergagap, lalu dengan suara terputus-putus diceritakan
Sali apa maksud kedatangannya. Sekonyong-konyong bapak polisi tersentak bagai
disengat lebah lubang pantatnya. Bibirnya menyungging jelek, sebelah matanya
dipicingkannya rapat-rapat dan yang sebelahnya lagi dibelalakkannya
lebar-lebar. Secara itulah dia menetap tamunya sesaat lamanya. Sali menggigil.
Melemas serasa tubuhnya, seolah-olah bulat-bulat tersedot oleh pandangan yang
ganjil itu. Sekejap kemudian ruangan kecil itu pun berubah jadi medan
hiruk-pikuk.
“Bangsat! Kurang ajar! Bajingan! Sambar geledek lu! Kiramu aku pokrol
bambumukah? Ini adalah tempat paling sopan di muka bumi. Dan sekali-kali bukan
tempat untuk mengadukan hal yang bukan-bukan. Yoh, lekas angkat kakimu dari
tempat ini. Nyah, nyahlah kau selekasnya dari sini sebelum kutembak mati….”
Pelan-pelan Sali mengingsut pantatnya dari bangku panjang yang
didudukinya, lalu merayap diam-diam ke pintu. Terasa napasnya sesak pengap
bagai dicekik lehernya. Celananya basah.
Entah bagaimana jalannya, tahu-tahu Sali sudah tiba kembali dipagar
pekarangannya dan di sini sekonyong-konyong robohlah ia tak sadarkan diri.
Masih juga ia tak sadar ketika kemudian keluarganya memindahkan badannya dari
pekarangan dan membaringkannya ke atas bale-bale di kamarnya.
Tidak juga ia mau siuman ketika beberapa dukun kampung telah
didatangkan, ketika mantera-mantera dibacakan dan ketika air penawar diguyurkan
ke ubun-ubun dan dibasuhkan ke serata wajahnya.
Sesekali terdegar keluhannya, kering dan gerah. Sudah itu sepi. Dadanya
diam dan rata. Menjelang tengah malam para tetangga dikejutkan oleh suara
pekikan Istri Sali yang melolong mencabik kesenyapan malam. Tentu mereka pada
tergugah dan sama takjub bertanya-tanya.
“Ada apa? Ada yang terjadi dirumah Sali?”
Istri Sali menangkupkan kepalanya ke pinggiran bale-bale.
Punggungnya berguncang-guncang menahan kepiluan yang menghujam ke dalam
dadanya.
Kini di hadapannya, di atas bale-bale. Itu terbujurlah mayat suaminya:
Sali. Orang mulai menyibukkan diri, masuk keluar pintu kamar. Tapi, tiada
seorang pun merasa perlu untuk menanyakan sebab-sebab kematian Sali, karena
mati adalah untuk setiap makhluk yang hidup. Mungkin mereka sudah menduga, atau
mereka-reka di kepala dan seperti halnya mereka, istri Sali pun menduga,
mereka-reka pula di kepala, berkata dia mesti terbata-bata di sela
sedu-sedannya.
“Pohon celaka itulah gara-gara semua ini. Beginilah jadinya. Akulah yang
menebang semalam, karena anak-anak sering memanjatinya….”
Apresiasi
Pendapat para pakar
mengenai apresiasi:
1.
Lourdes Hutapea
Apresiasi yaitu penghargaan seseorang terhadap hasil karya
sastra.
2.
Panuti Sudjiman
Apresiasi berasal dari kata ‘to appreciato’ yang artinya
menilai secara tepat, memahami, dan menikmati.
3.
Suwaji Bastomi
Apresiasi yaitu menyadari sepenuhnya sehingga mampu menilai
dengan semestinya.
4.
Silfi Amalia
Apresiasi yaitu suatu penghargaan dan penilaian.
5.
Buku praktis B.Indonesia
Apresiasi yaitu usaha suatu pengenalan suatu nilai yang lebih
tinggi
Dari pendapat diatas
dapat kita temukan persamaan pengertian apresiasi menurut beberapa pakar, yaitu
merupakan suatu penghargaan terhadap suatu karya.
Menurut penulis sendiri apresiasi yaitu
suatu bentuk penilaian terhadap suatu karya baik itu kelebihan maupun
kekurangannya.
Cerpen
Pendapat para pakar
mengenai cerpen:
1.
Bakar Hamid
Cerpen yaitu cerita rekaan yang pendek terdiri dari beberapa
halaman dan banyaknya perkataan yang dipakai antara 500-20000 kata.
2.
KBBI
Cerpen yaitu kisahan pendek (kurang dari 10000 kata) yang
memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam
satu situasi (pada suatu ketika).
3.
Naning Pranoto
Cerpen yaitu cerita yang ditulis pendek dan terdiri dari
2000-10000 kata.
4.
Wikipedia
Cerpen yaitu suatu bentuk prosa naratif fiktif.
5.
Y. Budi Artati
Cerpen yaitu cerita pendek yang termasuk salah satu hasil
karya sastra prosa.
Dari pendapat diatas
dapat kita temukan persamaan pengertian cerpen menurut beberapa pakar, yaitu
suatu cerita pendek yang biasa berisi suatu kisah dalam bentuk prosa.
Menurut penulis
sendiri cerpen yaitu cerita yang pendek dan berbentuk prosa dan terdiri dari
beberapa paragraph yang terdiri dari kata-kata yang kurang dari 10000 kata.
Ciri-ciri cerpen:
a.
Memiliki satu masalah
b.
Mementuk suatu inspirasi tunggal
c.
Memiliki seorang pelaku utama
d.
Masalah utama dalam cerita menguasai jalannya cerita
e.
Dapat menimbulkan efek dan kesan kepada pembaca
f.
Mengandung penafsiran pengarang tentang konsepnya
g.
Panjangnya 8-20 halaman
h.
Biasanya selesai dibaca dalam beberapa jam
Perbedaan cerpen dan
novel:
a.
Cerpen, yaitu :
·
Panjangnya 8-20 halaman
·
Memberikan kesan
·
Memiliki satu masalah tunggal
·
Dimensi waktu terbatas
·
Alur cerita satu dan sederhana
·
Tokohnya sedikit
·
Terpusat pada satu tokoh utama
·
Memperkenalkan watak tokoh dengan singkat
·
Tidak sampai 1 buku
b.
Novel, yaitu :
·
Panjangnya >20 halaman
·
Memberikan pesan
·
Memiliki banyak masalah
·
Dimensi waktu bebas
·
Alur cerita banyak dan rumit
·
Tokohnya banyak
·
Terpusat pada lebih dari 1 tokoh utama
·
Memperkenalkan watak tokoh dengan detail
·
Bisa sampai 1 buku atau lebih
Unsur Instrinsik
Cerpen
Unsur instrinsik cerpen yaitu unsur yang
membangun sebuah karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri.
Urutan Peristiwa
1.
Pada suatu pagi pohon pepaya milik Sali dalam keadaan roboh
membelintang di tanah.
2.
Banyak buah pepaya yang lumat berlepotan di timpa batang
pepaya yang gemuk itu.
3.
Sali merasa linglung dan sedih melihat pohon pepayanya itu
tumbang dengan banyaknya getah yang meleleh menetes-netes ke tanah.
4.
Datanglah seorang tetangga dari sebelah rumah Sali yang ikut
menyaksikan musibah itu.
5.
Sali memulai pembicaraan dengan menunjukkan pohon pepayanya
yang roboh dengan bekas bacokan.
6.
Tetangganya hanya diam saja mendengar cerita Sali yang
kelihatannya sangat bersedih kehilangan sebatang pohon pepaya.
7.
Kemudian Sali segera pergi ke kelurahan pada pagi itu dengan
langkah yang agak cepat meskipun ia menyadari bahwa perutnya dari tadi terus
berbunyi ingin meminta makan.
8.
Ketika sampai di kelurahan ia segera bertema Pak Lurah dan
segera menyampaikan masalahnya tentang pohon pepaya tersebut.
9.
Tetapi Pak Lurah malah menyuruhnya pulang kembali kerumahnya
dan menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu dan jangan dibesar-besarkan lagi.
10. Tetapi Sali tetap
bersikeras untuk mengusut tuntas masalah itu, kemudian Sali langsung
meninggalkan kelurahan dan dengan cepat menuju ke kecamatan.
11. Setibanya di kecamatan
ia langsung bertemu Pak Camat dan ia segera menyampaikan masalahnya.
12. Tetapi ia malah
mendapat olokan dari juru tulis-juru tulis di kantor camat tersebut tentang
masalahnya itu.
13. Akhirnya Sali
memutuskan untuk pergi ke kantor polisi desa.
14. Setibanya disana ia
langsung masuk kedalam kantor dan melaporkan segala kejadian yang terjadi di
halaman rumahnya.
15. Tetapi polisi desa itu
malah memaki-makinya dan memarahinya karena ia menyampaikan masalah yang
seharusnya tidak perlu dilaporkan.
16. Kemudian dengan sedih
Sali pulang kembali ke rumahnya, namun setibanya di pekarangan rumahnya Sali
langsung roboh ke tanah tak sadarkan diri.
17. Keluarganya segera
mengangkat Sali kedalam rumah dan di baringkan diatas bale-bale di kamarnya.
18. Banyak dukun kampung
yang telah didatangkan kerumah untuk menyadarkan Sali.
19. Hingga akhirnya pada
tengah malam terdengar suara pekikan istri Sali yang membuat semua warga
menjadi penasaran dan mengunjungi rumah Sali.
20. Ternyata alangkah
terkejutnya para warga yang mengetahui bahwa Sali telah meninggal dunia setelah
pingsan cukup lama.
21. Akhirnya istri Sali
pun mengungkapkan bahwa dialah orang yang telah menebang pohon pepaya itu
semalam, karena banyak anak-anak yang memanjatinya.
Tema
Pendapat para pakar
mengenai tema:
1.
Lourdes Hutapea
Tema yaitu gagasan pokok yang mendasari suatu karya. Tema
diungkapkan dengan menggabungkan topik dengan tujuan, topik yaitu alat untuk
menyampaikan tema, tujuan yaitu sasaran dan manfaat yang akan dicapai dari
cerita.
2.
KBBI
Tema yaitu pokok pikiran, dasar cerita dan dipakai sebagai dasar
dalam mengarang.
3.
Buku Cakap Berbahasa Indonesia
Tema yaitu sesuatu yang menjadi dasar dari suatu cerita, yang
menjiwai cerita, atau yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
4.
Indrawan W. S.
Tema yaitu sebagai pokok pikiran yang dipercakapan dipakai sebagai
dasar dalam mengarang.
5.
Drs. Ahmad A. K. Muda
Tema yaitu pokok pikiran atau dasar dalam suatu cerita.
Dari
pendapat diatas dapat kita temukan persamaan pengertian tema menurut beberapa
pakar, yaitu suatu pikiran pokok, dasar cerita dalam membuat suatu karya.
Menurut
penulis sendiri tema yaitu suatu pokok pikiran yang berada dalam suatu cerita
yang menjiwai seluruh isi dari cerita.
Tema dari cerita
‘Gerhana’ yaitu Keadilan dalam hukum. Karena didalam cerita Sali terus berusaha
mendapatkan suatu keadilan dari hukum hingga ia meninggal dunia meskipun
masalah yang dihadapinya itu merupakan masalah yang sepele saja.
Latar
Latar disebut juga
dengan setting yaitu latar belakang peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam
cerita atau karya sastra.
Latar terbagi atas
3:
1.
Latar tempat
Berkaitan dengan tempat, seperti desa, kota, laut, dan rumah.
2.
Latar waktu
Berkaitan dengan waktu, seperti pagi hari, siang hari, dan
jam.
3.
Latar suasana
Berkaitan dengan suasana atau keadaan peristiwa dalam karya
sastra, seperti suasana sedih, suasana gembira, suasana takut, dan perang.
Latar yang terdapat
pada cerita ‘Gerhana’ yaitu:
1.
Latar tempat
Pekarangan rumah Sali. Karena kebanyakan
tokoh utama berperan di pekarangan rumah dan banyak kejadian penting yang
terjadi di tempat tersebut.
2.
Latar waktu
Pagi hari. Karena di dalam cerita lebih banyak menggunakan
waktu pada pagi hari sebagai puncak masalahnya.
3.
Latar suasana
Sedih.
Karena pada akhir dari cerita ini tokoh utama meninggal karena tidak dapat memecahkan
masalah yang dihadapinya.
Alur
Alur yaitu rangkaian
peristiwa yang menjalin sebuah cerita dan membentuk suatu kesatuan sebab
akibat.
Alur dapat dibagi
menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
1.
Tahap penyituasian
Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian
informasi awal, dan lain-lain, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang
dikisahkan pada tahap berikutnya.
2.
Tahap pemunculan konflik
Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik
itu sendiri akan berkembang menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.
3.
Tahap peningkatan konflik
Konflik yang telah dimunculkan pada tahap
sebelumnya semakin berkembang. Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita
semakin mencengangkan dan menegangkan.
4.
Tahap klimaks
Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada tokoh
cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami
oleh tokoh-tokoh utama yang berperasaan sebagai pelaku dan penderita terjadinya
konflik utama.
5.
Tahap penyelesaian
Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian,
ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik tambahan (jika ada) juga diberi jalan
keluar, cerita diakhiri. Tahap ini disesuaikan dengan tahap akhir diatas.
Alur suatu cerita
dibagi atas beberapa macam:
1.
Alur maju
Bagian alur disajikan secara berurutan dari
tahap perkenalan atau pengantar, dilanjutkan dengan tahap penampilan masalah,
dan diakhiri dengan tahap penyelesaian.
2.
Alur mundur
Alur ini disusun dengan mendahulukan tahap penyelesaian, lalu
disusul dengan tahap-tahap yang lain, yang menceritakan peristiwa-peristiwa
yang mendahului.
3.
Alur gabungan
Alur ini merupakan perpaduan antara alur maju dan alur mundur.
Maksudnya, susunan penyajian urutan peristiwa diawali dengan puncak ketegangan,
lalu dilanjutkan dengan perkenalan, dan diakhiri dengan penyelesaian.
Urutan Peristiwa
a)
Tahap penyituasian:
1)
Pada suatu pagi pohon pepaya milik Sali dalam keadaan roboh
membelintang di tanah.
2)
Banyak buah pepaya yang lumat berlepotan di timpa batang
pepaya yang gemuk itu.
3)
Sali merasa linglung dan sedih melihat pohon pepayanya itu
tumbang dengan banyaknya getah yang meleleh menetes-netes ke tanah.
4)
Datanglah seorang tetangga dari sebelah rumah Sali yang ikut
menyaksikan musibah itu.
5)
Sali memulai pembicaraan dengan menunjukkan pohon pepayanya
yang roboh dengan bekas bacokan.
6)
Tetangganya hanya diam saja mendengar cerita Sali yang
kelihatannya sangat bersedih kehilangan sebatang pohon pepaya.
b)
Tahap pemunculan konflik:
1)
Kemudian Sali segera pergi ke kelurahan pada pagi itu dengan
langkah yang agak cepat meskipun ia menyadari bahwa perutnya dari tadi terus
berbunyi ingin meminta makan.
2)
Ketika sampai di kelurahan ia segera bertema Pak Lurah dan
segera menyampaikan masalahnya tentang pohon pepaya tersebut.
3)
Tetapi Pak Lurah malah menyuruhnya pulang kembali kerumahnya
dan menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu dan jangan dibesar-besarkan lagi.
c)
Tahap peningkatan konflik:
1)
Tetapi Sali tetap bersikeras untuk mengusut tuntas masalah
itu, kemudian Sali langsung meninggalkan kelurahan dan dengan cepat menuju ke
kecamatan.
2)
Setibanya di kecamatan ia langsung bertemu Pak Camat dan ia
segera menyampaikan masalahnya.
3)
Tetapi ia malah mendapat olokan dari juru tulis-juru tulis di
kantor camat tersebut tentang masalahnya itu.
4)
Akhirnya Sali memutuskan untuk pergi ke kantor polisi desa.
5)
Setibanya disana ia langsung masuk kedalam kantor dan
melaporkan segala kejadian yang terjadi di halaman rumahnya.
6)
Tetapi polisi desa itu malah memaki-makinya dan memarahinya
karena ia menyampaikan masalah yang seharusnya tidak perlu dilaporkan.
d)
Tahap klimaks:
1)
Kemudian dengan sedih Sali pulang kembali ke rumahnya, namun
setibanya di pekarangan rumahnya Sali langsung roboh ke tanah tak sadarkan
diri.
2)
Keluarganya segera mengangkat Sali kedalam rumah dan di
baringkan diatas bale-bale di kamarnya.
3)
Banyak dukun kampung yang telah didatangkan kerumah untuk
menyadarkan Sali.
4)
Hingga akhirnya pada tengah malam terdengar suara pekikan
istri Sali yang membuat semua warga menjadi penasaran dan mengunjungi rumah
Sali.
5)
Ternyata alangkah terkejutnya para warga yang mengetahui bahwa
Sali telah meninggal dunia setelah pingsan cukup lama.
e)
Tahap penyelesaian:
1)
Akhirnya istri Sali pun mengungkapkan bahwa dialah orang yang
telah menebang pohon pepaya itu semalam, karena banyak anak-anak yang
memanjatinya.
Alur yang digunakan
dalam cerpen ‘Gerhana’ yaitu alur maju. Karena pada cerpen ini dimulai dengan pemunculan
masalah, lalu menuju tahap konflik, dan pada akhirnya tahap penyelesaian
masalah.
Perwatakan / Penokohan
Tokoh yaitu
seseorang yang menjadi pelaku cerita, pelaku cerita disebut dengan aktor/aktis.
Perwatakan dapat
dibagi manjadi 3 aspek:
1.
Aspek fisik
Dapat dilihat dari keadaan tubuh (fisik). Seperti umur, jenis
kelamin, ciri-ciri tubuh,cirri khas yang menonjol, suku bangsa, raut muka.
2.
Aspek psikologis
Dapat dilihat dari sifat-sifat. Seperti watak, kegemaran,
mental, standar moral, temperamen, ambisi, psikologis yang dialami, emosi.
3.
Aspek sosiologis
Dapat
dilihat dari jabatan/sastra. Seperti jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras,
agama, ideologi.
Dalam cerita
terdapat 3 jenis tokoh:
1.
Tokoh protagonist
Tokoh utama yang baik dan mendukung jalannya suatu cerita.
2.
Tokoh antagonis
Tokoh yang jahat dan menentang tokoh utama.
3.
Tokoh tritagonis
Tokoh
yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rantai cerita.
Tokoh dan wataknya
yang terdapat pada cerpen ‘Gerhana’ yaitu:
1.
Sali: keras kepala, suka melebih-lebihkan, tetap pada
pendiriannya, tak mau kalah, tak mudah putus asa.
2.
Tetangga: peduli, baik.
3.
Pak Lurah: mudah tersinggung, tegas, bijaksana.
4.
Juru tulis: usil, suka bercanda.
5.
Polisi desa: tegas, pemarah.
6.
Istri Sali: tidak bertanggung jawab, abil keputusan sendiri.
I. Sudut Pandang
Sudut pandang yaitu
kedudukan pengarang dalam cerita.
Biasanya dalam
cerpen sudut pandang yang digunakan ada 2:
1.
Sudut pandang orang ke-1
Penulis berada dalam cerita sebagai tokoh utama yang mengalami
konflik. Ditandai dengan kata saya, aku.
2.
Sudut pandang orang ke-3
Penulis
tidak berada dalam cerita, tetapi sedang menceritakan orang lain sebagai
dirinya. Ditandai dengan ia, dia, beliau,nama orang.
Sudut pandang yang
digunakan dalam cerpen ‘Gerhana’ yaitu sudut pandang orang ke-3. Karena di
dalam cerpen penulis menggunakan nama orang sebagai tokoh utamanya dan penulis
sedang menceritakan orang lain.
Majas
Majas yaitu gaya
bahasa yang menimbulkan konotasi tertentu.
Majas terbagi atas 4
yaitu:
1.
Majas perbandingan: Metafora, personifikasi,
perumpamaan/simile, alegori.
a)
Metafora yaitu majas yang membandingkan 2 benda yang berbeda.
Contoh: Raja siang, dewi malam
b)
Personifiksi yaitu majas yang menganggap benda mati
seolah-olah hidup seperti manusia.
Contoh: Nyiur melambai-lambai
c)
Simile yaitu majas membandingkan 2 benda yang hakikatnya beda
tapi dianggap sama. Contoh: mukamu seumpama tong sampah.
d)
Alegori yaitu majas yang memperlihatkan suatu perbandingan
utuh, beberapa perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain membentuk satu
kesatuan. Contoh: Hidup kita diumpamakan dengan bahtera yang terkatung-katung
di tengah laut.
2.
Majas sindiran: Sinisme, ironi, sarkasme.
a)
Sinisme yaitu majas sindiran yang agak kasar atau agak pedas. Contoh:
Ilmu yang kamu miliki sudah selangit, untuk apa minta nasihatku.
b)
Ironi yaitu majas sindiran yang sifatnya halus. Contoh: Baik
sungguh kelakuanmu, kakak sendiri kau maki.
c)
Sarkasme yaitu majas sindiran yang sifatnya kasar. Contoh:
Dasar pembangkang, mau diapakan lagi kau.
3.
Majas pertentangan: Litotes, hiperbola, paradox, antitesis,
anakhronisme, kontra diksioiterminis.
a)
Litotes yaitu majas yang menyatakan hal yang berlawanan,
memperkecil arti/memperluas keadaan. Contoh: Hasil tesnya tidak mengecewakan.
b)
Hiperbola yaitu majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang
berlebih-lebihan atau membesarkan keadaan yang sebenarnya. Contoh: Suaranya
membelah bumi.
c)
Paradox yaitu majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan
memang kalau dilihat sepintas lalu terlihat ada pertentangan tetapi jika
diteliti lebih seksama ternyata tidak, karena objek yang dikemukakan berlainan.
Contoh: Dengan kelemahannya kaum wanita menundukkan kaum pria.
d)
Antitesis yaitu majas pertentangan yang menggunakan paduan
kata yang berlainan arti. Contoh: Hidup matinya, susah senangnya serahkanlah
kepadaku.
e)
Konta diksioterminis yaitu majas ini memperlihatkan sesuatu
yang bertentangan dengan apa yang dikatakan semula, apa yang sudah dikatakan
disangkal lagi oleh ucapan kemudian. Contoh: Semuanya sudah hadir di rapat ini,
kecuali si Burhan.
f)
Anakhronisme yaitu majas ini menunjukkan bahwa dalam uraian
ada sesuatu yang tak sesuai dengan sejarah sesuatu yang disebutkan dalam cerita
belum ada pada masa itu. Pengarang tidak teliti menempatkan sesuatu tidak pada
tempatnya. Contoh: Dalam karangannya Julius Cesar Sakespeare menuliskan “Jam
berbunyi tiga kali” hal itu bertentangan dengan yang sebenarnya karena pada
saat itu belum ada jam.
4.
Majas penegasan: Pleonasme, tautologi, repetisi, klimaks,
antiklimaks.
a)
Pleonasme yaitu majas yang berupa pemakaian kata (sebgai
keterangan) yang berupa penegasan kata yang sebenarnya tidak perlu. Contoh:
Kapal ibu sedang mengarungi samudra luas.
b)
Tautologi yaitu majas penegasan dengan mengulang beberapa kali
sepatah kata dalam kalimat atau menggunakan pengertian yang sama dua kali. Contoh:
Pertahanannya sungguh kuat.
c)
Repetisi yaitu majas yang berupa ulangan maksud/pikiran. Contoh:
Serasa bermimpi, serasa berangan.
d)
Klimaks yaitu majas yang menyebutkan sifat/hal yang maknanya
makin mengeras/meningkat intensitasnya. Urutan gagasan yang berjenjang baik. Contoh:
jangankan hartaku, ragaku, jiwaku pun kupertahankan untuk kemerdekaan bangsa
dan Negara.
e)
Antiklimaks yaitu majas berupa urutan gagasan yang berjenjang
turun. Contoh: Gedung-gedung, rumah-rumah, gubuk-gubuk, semunya ludes dimakan
si jago merah.
Majas yang digunakan
dalam cerpen ‘Gerhana’ yaitu hiperbola. Karena penulis menggunakan kata-kata yang
berlebih-lebihan hampir di setiap paragraph dan banyak sekali percakapan antar
tokoh yang berlebih-lebihan.
Amanat
Amanat yaitu pesan
yang ingin disampaikan dari penulis kepada pembaca. Amanat biasanya tersirat
dalam tema.
Biasanya amanat berupa
pandangan atau pendapat pengarang tentang sikap menghadapi masalah tertentu.
Amanat yang terdapat dalam cerpen ‘Gerhana’
yaitu Bahwa kita jangan selalu memaksakan kehendak diri sendiri dan juga kita
jangan suka melebih-lebihkan suatu masalah yang kecil, sehingga suatu masalah
akan mudah terselesaikan tanpa terjadinya suatu hal yang menyedihkan, yang
tidak kita inginkan.
Kesimpulan
Apresiasi
yang saya buat ini secara keseluruhan membahas tentang unsur-unsur yang
terkandung dalam suatu cerpen. Pada bab pertama, apresiasi ini membahas tentang
latar belakang mengapa saya akhirnya membuat apresiasi ini, dimulai dari
banyaknya masalah-masalah dan kesulitan yang saya hadapi dalam membuat
apresiasi ini hingga banyaknya manfaat dan perubahan yang saya dapatkan dari
membuat apresiasi ini. Pada bab kedua, apresiasi ini membahas tentang berbagai
pengertian umum dari lima orang pakar mengenai apresiasi dan cerpen, dan juga
membahas tentang pengertian dan pembagian dari unsur instrinsik yang terdapat
dalam cerpen yang sedang dibahas. Pada bab ketiga, apresiasi ini berisi
penutup, yang didalamnya terdapat beberapa pendapat dari penulis terhadap
cerpen yang dibahas.
Unsur
instrinsik merupakan suatu unsur pembentuk cerpen yang berasal dari dalam diri
cerpen itu sendiri. Unsur instinsik sekiranya dapat kita bagi menjadi 7 bagian
yaitu tema, latar, alur, perwatakan/penokohan, sudut pandang, majas/pilihan
kata, dan amanat. Tema merupakan suatu pokok pikiran yang berada dalam suatu
cerita yang menjiwai seluruh isi dari cerita. Latar merupakan latar belakang
peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam cerita atau karya sastra. Alur
merupakan rangkaian peristiwa yang menjalin sebuah cerita dan membentuk suatu
kesatuan sebab akibat. Perwatakan merupakan sifat yang dimiliki oleh seorang
tokoh. Sudut pandang merupakan kedudukan pengarang dalam cerita. Majas
merupakan gaya bahasa yang menimbulkan konotasi tertentu. Dan amanat merupakan
pesan yang ingin disampaikan dari penulis kepada pembaca. Semua itu merupakan
unsur terbentuknya suatu cerpen dimana semuanya saling berkaitan dan
berhubungan satu dengan lainnya.
Pada
cerpen ini sebenarnya menceritakan tentang seseorang bapak yang berjuang untuk
mengungkap siapa yang telah menebang dan membacok pohon pepayanya. Ia berjuang
untuk terus mencari tahu, meskipun telah banyak orang yang menertawai dan
memarahinya. Sampai-sampai ia melapor dari kantor kelurahan, ke kantor
kecamatan, hingga akhirnya ke kantor polisi desa. Tetapi semuanya tidak ada hasilnya,
karena pada akhirnya dia menjadi kecapekan dan putus asa. Hingga dia pingsan di
halaman rumahnya dan akhirnya ditemukan telah meninggal di dalam kamarnya
karena masalah itu. Secara keseluruhan cerpen ini sebenarnya menarik karena
cerpen ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi pelajaran
bagi kita.
Saran saya dalam
karya tulis ini agar para pembaca lebih tertarik terhadap cerpen sastra dan
agar para pembaca yang juga memiliki motivasi dalam menulis dapat menjadikan
cerpen ini sebagai pedoman dalam menulis, karena gaya bahasa yang digunakan
dalam cerpen ini sebenarnya sudah sangat bagus dan kata-kata yang digunakan
sudah cukup indah.