|
Tamu Yang tak di undang
|
Malam yang
sangat dingin mataku serasa sudah lelah dan ingin beristirahat. Saat aku
melihat jam dinding, tidak terasa jarum
jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku pun segera menggosok gigi dan mencuci
muka serta kakiku sebelum tidur. Seusai itu aku langsung bergegas ke kamar
untuk tidur.
Mataku yang
sudah terpejam kemudian dibangunkan oleh teriakan. Aku langsung kaget
mendengarnya. Ternyata, itu mamaku yang memanggilku. Entah karena apa, dia
memanggilku. Aku pun bergegas keluar kamar dan turun ke bawah.
“Mimi, kenapa
kamu selalu lupa membawa keranjang pakaian kamu ?” ujar ibuku.
Tanpa
mengucapkan sepatah katapun, aku langsung mengangkat keranjang pakaianku dan
ingin segera tidur lagi. Dua tangga sudah aku lewati, kemudian aku melihat
ibuku mengangkat keranjang pakaian lagi. Aku kaget, karena mengira keranjang
pakaian itu adalah milikku juga. Ternyata, itu adalah keranjang pakaian milik
adikku. Keranjang itu lebih besar dan berisi pakaian yang sangat banyak.
“Mi, tolong.
Keranjang pakaian ini juga kamu naikkan dan simpan didepan kamar adikmu !” kata
ibuku.
“ahh,, mama… itu
terlalu berat. Aku tidak bisa mengangkatnya” kataku.
“Ah,, kenapa
kamu tidak bisa mengangkatnya ini kan ringan” kata ibuku.
“Ma, Pokoknya
gak bisa, ini aja aku angkat susah banget. Kenapa mama tadi tidak suruh andi
saja ? Aku sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat tidur. Lebih baik besok
saja mama menyuruh andi.” kataku sambil mengomel kepada ibuku.
Dengan perasaan
jengkel, aku meninggalkan ibuku dan langsung masuk ke kamar. Tidak lama kemudian,
mataku sudah terlelap dan akhirnya tertidur. Anjing-anjing yang bergonggong
kini telah berhenti.
Entah perasaan
apa, yang membuat aku terbangun. Aku membuka mataku dan melihat sesosok
laki-laki yang duduk di tempat tidurku. Aku mengira itu adikku yang ingin tidur
denganku karena dialah yang biasanya mengetuk pintuku pada waktu tengah malam
seperti ini. Dengan melihatnya lebih jelas lagi, ternyata itu bukan adikku
melainkan orang lain. Aku langsung terkejut dan berteriak memanggil mamaku.
“Ma Pa, ada orang
yang masuk di kamarku” sambil menangis aku terus memanggil Mama dan Ayahku.
Kemudian,
laki-laki muda itu langsung lari keluar dari kamarku. Entah ia pergi kemana.
Aku pun juga berlari dan ingin segera menuju ke kamar orang tuaku. Aku sempat
berhenti dan berpikir dia lewat mana hingga bisa masuk di rumahku dan di
kamarku. Aku melihat pintu ruang tamuku tapi tetap tertutup dan aku langsung
mengingat kalau waktu aku tidur aku lupa mengunci pintu kamarku.
Dengan perasaan
kaget, aku langsung lari dan mendengar seseorang yang terjatuh dari tangga. Aku
mendengar kalau orang tuaku juga kaget dan memanggil-manggil namaku. Aku
langsung turun dan langsung menuju ke kamar orang tuaku.
“Kenapa ? Ada
apa ?” Tanya ayah dan ibuku.
“Tadi, ada orang
yang masuk di kamarku.” Kataku.
“Mungkin, kamu
sedang bermimpi.” Ujar ayahku. Seakan dia tidak percaya.
“Ayah, aku gak
mimpi. Beneran tadi ada orang yang masuk di kamarku” kataku sambil ingin
meyakinkan orang tuaku.
Ayahku yang juga
kaget mulai mencari di atas. Tapi dia tidak menemukan apa-apa.
“Mana gak ada
apa-apa ?” kata ayahku.
“Ayah, tadi
memang ada yang masuk di kamarku.” Kataku sambil menangis.
“Heem, kalau
begitu apa kamu tidak apa-apa ? Aku mendengarmu terjatuh tadi di tangga” Tanya
ibuku sambil memelukku.
“Mah,, itu bukan
aku. Itu orang yang masuk ke kamar aku.” Kataku.
Dengan perasaan
kaget, ayahku lalu mencari lagi. Kali ini bukan diatas tetapi disekitar kamar
ayahku. Tak lama kemudian, ayahku menemukannya.
“Itu dia” kata
ayahku sambil terkejut.
Mamaku langsung
keluar dari kamar dan melihatnya. Dan langsung menangis memelukku. Dan terkejut
melihat pencuri itu, ternyata dia adalah tetanggaku sendiri. Dia adalah anak
muda yang selalu nongkrong di depan rumah. Dia memang sudah meresahkan banyak
warga di sekitar sana. Sudah banyak yang menjadi korbannya.
“Kau Hendri ?
Kenapa kamu masuk di kamar anakku ?” Tanya ibuku.
“Saya mau cari
makanan tante.” Jawab pencuri itu sambil menundukkan kepala.
Melihat wajah
ayah dan ibuku yang marah. Ayahku langsung mencari tali dan mengikatnya dan
menyuruhku untuk menelpon Pak Harpin tetanggaku yang seorang polisi.
Aku yang disuruh
oleh ayahku, bergegas mencari telepon genggam ayahku. Tidak lama kemudian, aku
menemukannya dan langsung menelepon Pak Harpin.
“Yah, gak ada
yang angkat.” Kataku.
“Coba lagi.”
Kata ibuku.
Tak lama
kemudian seseorang pria mengangkatnya. Pasti dia adalah tetanggaku itu. Aku
langsung memberikan telepon genggam itu kepada ayahku.
“Hallo, Assalamu
Alaikum.”kata ayahku
“Waalaikum
Salam”jawab Pak Harpin dari telepon genggam.
“Hallo, Pak
Harpin sekarang ada di mana ?”Tanya ayahku
“Iya, di rumah
pak. Ada apa yah pak ?”Tanya Pak Harpin.
“Ada orang yang
masuk di rumah saya Pak”jawab ayahku.
“Apa ? oh, iya
iya. Tunggu pak saya akan ke rumah bapak.”kata Pak Harpin dengan suara
terkejut.
Beberapa detik
kemudian, terdengar teriakkan seseorang bapak-bapak. Pasti itu adalah Pak
Harpin. Ibuku bergegas mencari kunci
pintu dan pagar lalu segera mengizinkannya masuk.
“Mana orangnya
?” Tanya pak harpin sambil membawa pistolnya.
Dengan tubuh
yang terikat. Ayahku menyeretnya keluar.
“Ternyata
anak-anak. Heh,, kamu Hendri ?” Tanya Pak Harpin.
“Iya, itu
Hendri” jawab ibuku.
Dari tadi
pencuri itu hanya terus saja menunjuk dan tidak berani mengangkat kepalanya.
Dari raut wajahnya dia terlihat sangat ketakutan.
“Siapa yang
menyuruhmu masuk di rumah orang ?” Tanya Pak Harpin sambil memegang pencuri
itu.
“Tidak, ada yang
menyuruh saya Pak. Saya lapar dan ingin mencari makanan.”jawab pencuri itu.
“Tadi, kamu
lewat mana ?” Tanya Pak Harpin.
“Saya memanjat
di Palpon Pak.”jawab pencuri itu.
“Mungkin dia
juga masuk waktu rumah kosong. Pantas saja waktu kami pulang pintu di atas
terbuka padahal kami sudah menguncinya. Iya kan, kamu juga masukkan waktu itu
?”
Pencuri itu
terus saja menunduk.
“Sudah berapa
kali kamu masuk di rumahnya” Tanya Pak Harpin.
“sudah dua kali
pak.” Jawab pencuri itu dengan terpaksa.
Pertanyaan demi
pertanyaan di Tanyakan kepada pencuri itu. Aku yang ada di kamar ibuku hanya
mengintip dan masih takut melihat wajah pencuri itu dan air mataku tidak mau
berhenti menetes. Karena, banyak pertanyaan tidak dijawabnya. Pak Harpin lalu
menelpon temannya yang bertugas di Kapolres Tempe di Kota Sengkang.
Tidak lama
kemudian, terdengar suara mobil polisi dan singgah di depan rumah saya. Tiga
orang pria keluar dari mobil polisi itu dan langsung menuju ke rumah saya. Pencuri
itu lalu diseret ke depan pagar oleh Pak Harpin. Mendengar suara mobil polisi
dan suara teman-teman Pak Harpin yang cukup ribut itu, tetanggaku yang sedang
tertidur lelap terbangun dan keluar rumah melihat apa yang terjadi. Aku yang
sangat penasaran keluar dari kamar ibuku dan mengintip di pintu.
“Ada apa,
pak?”Tanya tetanggaku.
“ini Pak, dia
masuk di rumah saya”jawab ayahku.
“Oh, pantasan
saja tadi saya dengar Mimi berteriak. Saya kira salah sanak keluarga bapak
datang."kata tetanggaku.
“Bukan keluarga
saya yang datang”jawab ibuku.
Tubuhnya yang
diikat dilepaskan kemudia diborgol dan akan diinterogasi kembali di kantor
polisi.
“Pak, anak ini
akan kembali diinterogasi di Kapolres Tempe”ujar teman Pak Harpin.
“Iya, pak.” Kata
ayahku.
Kemudian,pencuri
itu dinaikkan di mobil polisi dan segera di bawa ke Kapolres. Aku langsung
keluar menuju ke Ibuku. Ibuku yang melihatku langsung memelukku.
Setelah
berbincang-bincang dengan tetanggaku. Kami pun kembali masuk rumah dan ingin
kembali tertidur. Aku melihat jam dinding ternyata telah menunjukkan pukul
02.00. ayahku yang khawatir dengan adikku langsung menuju ke kamar adikku. Dan
serempak saja adikku langsung berteriak dan memeluk ayahku. Terlihat dari
wajahnya dia sangat ketakutan.
“Mi, kamu tidur
kamar ibumu saja ya bersama dengan adikmu!.” kata ayahku.
“iyah, biar kami
yang tidur di kamar kamu.” Kata ibuku.
Aku yang tak
menjawab sepatah katapun langsung menuju ke kamar orang tuaku dan tertidur.
Adikku yang sangat penasaran terus bertanya kepadaku.
“Mi, siapa orang
itu ? apa yang dilakukannya di kamarmu ?” Tanya adikku.
“Sudah lah aku
ingin tidur”jawabku.
Aku tidak ingin
mengingat kejadian itu karena aku selalu ingin menangis. Tidak lama kemudian,
aku tertidur.
Beberapa hari
kemudian, ayahku bertemu dengan Pak Harpin dan menanyakan bagaimana keadaan
pencuri itu.
“pak, bagaimana
dengan pencuri itu ?”tanya ayahku.
“Dia hanya
dipenjara satu hari. Karena dia masih dibawa umur dia hanya diberi peringatan
dan jika dia melakukannya lagi dia akan benar-benar dipenjara.”jawab Pak
Harpin.
Hari demi hari,
aku mulai melupakannya dan tidak menangis lagi saat mengingatnya. Dan mendengar
kabar kalau dia telah pindah. Rasanya lega mendengarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar